Liputan.

Liputan9Online.

Iklan

Menu Bawah

GM GRIB Jaya Desak Pemkab Asahan Tolak Keras Operasi Modifikasi Cuaca

Selasa, 18 Agustus 2026, Agustus 18, 2026 WIB Last Updated 2026-08-18T07:09:19Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Liputan9.online | Asahan
Baru saja selesai upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81 dilaksanakan, langit Asahan yang biru di hari perayaan tersebut kemudian dihiasi oleh gumpalan asap putih bergaris lurus yang sepintas seperti lajur asap jet atau roket yang sedang melakukan penerbangan, Senin (17/08/26).

Amatan media, sedikitnya ada dua kali gumpalan asap tebal bergaris lurus yang membentang di langit saat perayaan hari kemerdekaan diperingati di Asahan.



Kejadian ini bukanlah sebuah fenomena atau sekedar perlintasan pesawat jet atau roket yang sedang merayakan hari kemerdekaan. Diduga kepulan asap membentang lurus di atas langit Asahan tersebut, merupakan operasi modifikasi cuaca atau penyemaian awan.


Dari berbagai sumber diketahui bahwa tekhnologi pembuatan hujan buatan pada umumnya menggunakan zat kimia, seperti natrium klorida (garam dapur), perak iodida, dan es kering (karbon dioksida padat) untuk memicu kondensasi dan mempercepat turunnya butiran air hujan dari awan.


Penggunaan zat kimia dalam proses hujan buatan atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memiliki beberapa dampak lingkungan yang signifikan, mulai dari pencemaran tanah dan air, risiko hujan asam, hingga terganggunya keseimbangan siklus cuaca alami.


Yang lebih mengkhawatirkan, resiko dari operasi pembuatan hujan buatan tersebut adalah terjadinya banjir dan tanah longsor akibat intensitas hujan yang tinggi.


Kabupaten Asahan menjadi salah satu wilayah atau daerah dengan resiko bencana yang terbilang besar. Di hulu, seperti Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Kecamatan Bandar Pulau dan Kecamatan Aek Songsongan merupakan daerah rawan terjadi tanah longsor.


Sementara di hilirya, yakni Kecamatan Tanjung Balai dan Kecamatan Silau Laut merupakan wilayah pesisir yang rentan mengalami banjir. Apalagi ketika intensitas hujan yang tinggi ditambah datangnya pasang laut atau banjir air rob, maka wilayah ini sewaktu-waktu dapat tenggelam.


Operasi pembuatan hujan buatan atau tekhnologi modifikasi cuaca yang terjadi pada Senin siang tersebut mengakibatkan hujan dengan intensitas cukup tinggi pada Selasa (18/08/26) yang terjadi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Asahan.


Kejadian ini pun kemudian mendapat sorotan dari DPC GRIB Jaya Asahan, khususnya GM GRIB Jaya Asahan yang mendesak agar Pemerintah Kabupaten Asahan dapat menolak tegas operasi modifikasi cuaca di wilayahnya.


Ketua GM GRIB Jaya Asahan, Syafrizal Ritonga kepada media mengatakan akan segera menyuarakan hal ini kepada pemerintah daerah. Menurutnya ini perlu dilakukan guna meningkatkan mitigasi bencana di daerah. Apalagi daerah Asahan memiliki resiko tinggi terjadinya bencana.


"Ini akan kita suarakan dan kita meminta agar Pemkab Asahan berani menolak keras operasi pembuatan hujan buatan di daerah kita. Gak mungkin Pemkab gak tau, siapa yang melakukan operasi ini," katanya.


Menurutnya lagi, akibat intensitas hujan yang tinggi, sebagian kawasan di pesisir Asahan telah mengalami kebanjiran. Hal itu diakibatkan bersamaan dengan naiknya gelombang pasang yang cukup tinggi dari laut.


Syafrizal juga mengingatkan agar Pemkab Asahan dapat melihat hal ini dengan serius, apalagi pada tahun ini Pemkab Asahan harus dapat membantu pemulihan dan penanganan bencana yang dialami oleh masyarakat Kabupaten Bireun - Provinsi Aceh dengan nilai bantuan yang cukup fantastis sebesar 33 miliar rupiah.


"Pemkab Asahan harus bisa melihat hal ini secara jernih, Pemerintah Pusat sampai hari ini tidak mampu menangani pemulihan bencana di daerah Aceh. Kan kita harus bantu mereka, jadi jangan diam ketika operasi modifikasi cuaca dilakukan di atas daerah kita. Toh, gak ada untungnya buat daerah kita kan," tandasnya.


Syafrizal pun menegaskan bahwa perayaan hari kemerdekaan masih sangat melekat di hati masyarakat, jangan sampai curah hujan yang cukup ekstrem ini membawa dampak buruk bagi kehidupan.


"Suasana perayaan hari kemerdekaan masih sangat melekat di hati kita, jangan sampai curah hujan yang ekstrem ini menjadi kado kemerdekaan bagi masyarakat kita," tutupnya. (dt)

Komentar

Tampilkan

Terkini